ALAM SEBAGAI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Oleh : Agung Satriyo N.
Belakangan ini Negara-negara di seluruh penjuru dunia terutama di Indonesia ini, pembangunan diberbagai bidang telah terlaksanakan, tetapi kecenderungan berbagai pembangunan tersebut hanya bersifat saat ini bukan untuk masa depan (future), artinya bahwa terdapat keegoisan yang dilakukan oleh kebanyakan manusia saat ini yang tidak memikirkan kelangsungan hidup kita maupun anak cucu kita di masa depan atau masa yang akan datang, sebagai contoh pembangunan besar-besaran gedung bertingkat di kota-kota megapolitan diseluruh dunia tanpa diimbangi adanya pelestarian terhadap lingkungan tempat kita menggantungkan hidup, akibatnya bencana terjadi dimana-mana sebagai contoh: banjir yang masuk di tengah kota Jakarta, banjir bandang di brazil, dan yang terbesar menimpa penduduk di seluruh dunia adalah global warming atau climate change.
Kita telah mengetahui adanya konflik yang paling parah didunia ini adalah global warming atau climate change, hal ini disebabkan bertambahnya kadar emisi gas CO2 yang menjadi penghalang keluarnya sinar matahari yang masuk atau efek rumah kaca (green house effect), yang akan berakibat terjadi pemanasan bumi (global warming), global warming ini banyak mempengaruhi kelangsungan hidup manusia bumi, selain itu banyak bencana yang terjadi akibat global warming ini, diantaranya terjadi pencairan es kutub yang akan meninggikan permukaan air laut, yang akan menenggelamkan sebagian dari daratan tempat kita hidup, selain itu juga mengakibatkan perubahan iklim (climate change) yang begitu signifikan, sebagai contoh yang terjadi belakangan ini di Indonesia, terjadi kerancuan terhadap musim kita, antara musim penghujan dan musim kemarau yang tidak menentu akibatnya munculnya bibit-bibit penyakit baik bakteri maupun virus yang mempunyai taraf penyebarannya yang cukup tinggi, selain itu climte change yang terjadi di Negara kita ini juga sangat menghambat terjadinya pembangunan, contohnya curah hujan yang sangat tinggi yang sangat sulit diantisipasi oleh pemerintah akan mengakibatkan bencana terjadi dimana-mana, banjir, tanah lonsor, dll, yang akan menghambat aktivitas manusia itu sendiri, selain iu juga akibat dari bencana tersebut bisa merusak sarana-prasarana pemerintah, yang secara otomatis membutuhkan anggaran yang cukup besar untuk perbaikannya (rekonstruksi).
Berbagai cara telah diupayakan oleh sebagian besar masyarakat, baik di Indonesia maupun di dunia, tetapi hal tersebut mendapat berbagai kendala yang salah satunya adalah berbagai kebijakan politik yang sangat tidak mendukung terhadap penyelesaian permasalahan ini, sebagai contoh telah dilaksanakan berbagai konferensi internasional terhadap global warming ini, mulai perjanjian Kyoto, sampai yang terakhir ini adalah konferensi global warming di Bali, tetapi masih banyak kendala yang masih menjadi penghalang terselesaikannya permasalahan ini, pada saat perjanjian Kyoto begulir, terdapat dua Negara adidaya yang tidak mau menyetujui pejanjian tersebut yaiu Amerika Serikat dan juga sekutunya yaitu Australia, dengan alasan lebih mementingkan kepentingan pribadi negaranya dari pada kepentingan kelangsungan hidup masyarakat dunia. Sedangkan pada saat konferensi di Bali belakangan ini sudah terdapat titik terang karena Australia telah menyetujui perjanjian tersebut, hal itu muncul saat setelah terjadi pergantian perdana menteri di Negara tersebut, tetapi Negara Amerika Serikat yang selama ini menjadi Negara adidaya masih belum menyetujui, yang didasarkan atas alasan jikalau negaranya harus mengurangi emisi gas CO2 nya maka akan mengurangi pendapatan negaranya, tidak dipungkiri bahwa Negara Adidaya tersebut telah menyediakan dana bantuan terhadap Negara-negara yang mau memelihara hutannya, itulah yang terjadi selama ini dalam politik Amerika Serikat.
Di Negara kita ini juga masih banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan kebijakan politik yang dilakukan oleh pemerintah, sebagai contoh pengalihan fungsi hutan bakau di sebagian besar provinsi DKI Jakarta menjadi perumahan elit, sebagai alasannya mereka akan menggunakan teknologi yang telah digunakan oleh Negara Belanda dalam mengatasi luapan air laut atau bencana lain yang terjadi akibat pengalihan fungsi tersebut, tetapi pada kenyataannya bencana masih melanda kota tersebut bahkan yang terjadi justru semakin parah, hal ini disebabkan kurangnya analisis dalam melakukan pendekatan yang belakangan ini telah dilakukan oleh pemerintah terutama kementrian lingkungan hidup, mereka tidak secara matang dalam menganalisis perbedaan karakteristik kedua wilayah tersebut, antara Belanda dengan Indonesia mempunyai perbedaan curah hujan yang sangat signifikan, jadi sangat sulit jikalau dilakukan penyamaan taraf pembangunan antara kedua wilayah tersebut.
Oleh karena itu, kita sebagai bagian yang hidup dalam ekosistem bumi wajib untuk terus meneriakkan dukungan dalam perlindungan terhadap lingkungan dan juga kecaman terhadap kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh manusia, karena setiap pembangunan bukan hanya diperuntukkan manusia saja melainkan untuk semua ekosistem yang terdapat di bumi ini, dan juga setiap pembangunan tidak selalu mengorbankan alam dalam pencapaiannya, kita harus tetap melakukan pembangunan dengan diiringi pelestarian lingkungan untuk kelangsungan hidup manusia saat ini maupun manusia di masa yang akan datang, hal ini yang kita harapkan menjadi pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar